Ilmu Komunikasi dan Jurnalisme

Jurnalistik bisa diartikan sebagai suatu proses pengelolaan laporan harian yang menarik minat khalayak dari peliputan hingga penyebarannya kepada masyarakat. Posisi institusi media massa sebagai lembaga social menuntut ia harus mampu menyuarakan kepentingan masyarakat yang menjadi “airnya”. Untuk itu proses peliputan dan pelaporan seluruh fenomena yang nantinya menjadi bahan-bahan berita harus benar-benar berpihak kepada masyarakat, tanpa ada tendesnsi untuk manipulasi demi kepentingan tertentu.

Ada beberapa gaya profesionalisme jurnalisme seperti dikatakan oleh Doris A. Graber (1993), yaitu: (1). Gaya profesionalisme cermin, adalah gaya jurnalisme yang mengharuskan berita dilaporkan apa adanya, (2). Gaya professional, merupakan gaya jurnalisme yang mampu menghasilkan berita dari kemampuan profesionalisme jurnalisme yang tinggi, yang memadukan keterampilan memilih peristiwa yang memenuhi kriteria nilai berita dengan keterampilan menyeimbangkan kepentingan berbagai pihak dalam sebuah peristiwa, (3). Gaya profesionalisme organisasi, menekan bahwa berita perlu disesuaikan dengan tujuan organisasi media yang menyiarkan berita tersebut. Berita yang disajikan diharapkan mendatang keuntungan bagi organisasi, (4). Gaya professional jurnalisme politik, meletakkan berita sebagai produk sebuah ideologi dan mampu memberikan legitimasi terhadap sebuah ideology. Karena itu berita diarahkan untuk menjelek-jelekkan ideology yang bertentangan dengan ideology yang dianut pemilik media. Biasanya gaya jurnalisme seperti ini selalu mengundang konflik.

Dalam kaitannya dengan gaya mana yang paling tepat untuk dijalankan, kita harus melihat dulu bagaimana fungsi pers itu. Sebagai media komunikasi menurut Wilbur schram (1977) fungsi pers adalah (1). Memberi informasi yang objektif kepada pembaca mengenai apa yang terjadi dilingkungannga, negaranya, dan didunia (2). Mengulas berita-beritanya dalam tajuk rencana dan menetapkan perkembangannya menjadi focus, (3). Menyediakan jalan bagi orang yang akan menjual barang dan jasa untuk memasang iklan.

Karena ia sebagai lembaga social maka pers bertugas merefleksikan segala sesuatu yang berlangsung dalam system social dalam bentuk informasi. Intinya informasi itulah yang menjadi dasar bagaimana kita memaknai pers. Lebih jauh dari itu maka yang dijadikan titik tolah dalam melihat fungsi pers adalah fungsi informasi. Berdasarkan fungsi memberikan informasi itu ada empat kategori dari pers yang perlu didiskusikan yaitu :

1. Informasi yang bersifat inforamtif
2. Informasi yang bersifat edukatif
3. Informasi yang bersifat hibura
4. Informasi yang bersifat persuasional

Fungsi Mengawasi Media Massa

Cara yang ditempuh oleh pers untuk menjalankan fungsi mengawasi adalah menjadikan berita sebagai alat kontrol sosial. Secara sederhana bisa berita usaha memberikan tentang suatu ketidakbenaran, keadaan yang tidak pada tempanya dan ihwal yang menyalahi peraturan. Harapan yang digantungkan adalah bahwa setelah masyarakat tahu akan berita itu, makan mereka akan bertekat untuk tidak mengulanginya lagi dimasa mendatang. Biasanya karena memberikan hal-hal yang berkonotasi buruk maka fungsi pers sebagai alat control social ini bisa disebut “berita buruk”.

Selama ini ada pendapat yang dianut oleh banyak orang bahwa berita buruk akan melahirkan hal yang buruk pula, sepertai berita tentanga kerusuhan cenderung untuk menyulut kerusuhan pula, berita tentang kerupsi cenderung membuat kecemburuan social dari orang lain untu “meniru” berbuat korup pula. Namun akhir-akhir ini dinegara maju berkembang pemikiran bahwa berita buruk inu justru melahirkan pelajaran yang baik untuk memperkuat nilai dan identitas kolektif yang sudah ada, sebab khalayak cenderung memproyeksikan keadaan yang mereka lihat pada diri mereka. Bila mereka menyaksikan bahwa akibat kerusuhan selalu buruk bagi trasportasi, pemukiman, kesejahteraan, bahkan kehidupan, maka mereka akan bertekat untuk tidak pernah bermimpi untuk “menemui” kerusuhan.

Dalam upaya untuk menciptakan profesi jurnalisme yang ideal, maka minimal ada dua hal yang perlu dijadikan renungan oleh jurnalis, yakni: (1). Karakteristik audience sekarang juah lebih kritis disbanding masa lalu. Tak ada audience yang setia terhadap satu media. Bila jelek, mereka ganti media! (2). Wartawan selalu dituntut memiliki keterampilan jurnalistik yang tinggi. Bila tidak maka mereka akan diragukan kapasitasnya sebagai pengumpul dan penyusun berita.

-------------------------------------------------------------------------------------



1 comments :

Anonymous Friday, August 11, 2017 at 3:30:00 PM GMT+7  

I like this website because so much utiole stuff on here :
D.

Post a Comment

komentar dari anda semua adalah komentar yang memiliki relevansi dengan posting artikel diatas dan saya sangat menghargai kunjungan serta komentar-komentar cerdas dari anda semua! Thanks and Happy Blogging

Dasril Iteza on G+

Hubungi Saya

Name

Email *

Message *

Page RankTop  blogs Personal Top Blogs Personal-Journals blog
eXTReMe Tracker
Blogarama - Blogging Blogs