Komunikasi Sebagai Sebuah Ilmu

Ragam Definisi : Beberapa ragam definisi ilmu komunikasi bergerak mengikuti kondisi dan situasi para pencetus definisi tersebut:

“Komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegas asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap”

“proses komunikasi merupakan sebuah proses dimana seorang individu [komunikator] mentransmit/ mengirimkan stimulus [biasanya berwujud symbol verbal] untuk mengubah dari perilaku dari individu yang lain [komunikan]”
– Carl I. Hovland

“Kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau lebih, yakni kegiatan menyampaikan dan menerima pesan, yang mendapat distorsi dari ganguan-ganguan dalam suatu konteks [biasanya dalam konteks waktu, tenpat, suasana dll – bulinz], yang menimbulkan efek dan kesempatan untuk arus balik. Oleh karena itu kegiatan komunikasi meliputi komponen-komponen sebagai berikut : konteks, sumber, penerima, pesan, saluran, gangguan, proses penyampaian atau encoding, proses penerimaan atau decoding, arus balik dan efek. Unsure-unsur tersebut agaknya palin esensial dalam setiap pertimbangan mengenai kegiatan komunikasi. Ini dapat kita namakan kesemestaan komunikasi : … unsur-unsur yang terdapat pada setiap kegiatan komunikasi apakah itu intra-persona, antarpersona/ kelompok kecil, pidato, komunikasi masa atau komunikasi antar budaya”
- Joseph A. Devito “Communicology: An Introduction to the study of communication”

Dari batasan sederhana dan yang cukup luas diatas terlihat bahwa komunikasi memiliki ranah kajian yang lebih kompleks.

Konunikasi; Perkembangan Jati Diri. Perkemabangan ilmu komunikasi dalam menemukan jati dirinya sebagai sebuah ilmu yang diakui oleh disiplin ilmu lainnya mengalami Beberapa phase :

1. Phase pencarian bentuk (1920 - 1930 an)
Pada phase ini belum ada sistematika, pusat perhatian ditujukan kepada surat kabar dan semua segi-segi social, politik serta ekonomi yang memperngaruhi penerbitannya. Salah satu tokohnya Karl Jaeger yang mengartikan publizistische wissenschaft sebagai: “setiap bentuk pengumumam dan penyertaan publistik dengan ilmunya tentang bentuk, pembawa, initi, dan pemgaruh serta pernyataannya”

Dari sini terlihat bahwa saat itu belum ada objek formal ilmiah yang jelas syarat mulai berkembang adalah sifat umum, aktualitas, popularitas, dengan disertai oleh kegiatan ketiga unsure tersebut, titik berat perhatian lebih pada komunikator.

2. Phase penitikberatan hubungan kausal
yang menjadi stressing saat ini adalah hubungan kausal antara pernyataan dan mengapa serta dimana dinyatakan untuk dikethui oleh umum. Tokohnya, Hindere menyebutkan bahwa setiap media masa mempunyai fungsi dan sifat pengaruhnya tersendiri, dengan akibat bahwa setiap orang sebagai komunikator akan memilih media yang sesuai dengan keperluan untuk mencapai masyarakat. Pada saat ini publisistik adalah ilmu serta penelitian tentang bagaimana menarik hati masyarakat, dengan media masa sebagai “pembawa dari pernyataan yang dinyatakan dengan penuh kesadaran oleh komunikator” (di AS berkembang istilah Hypodermeic-needle-theory).

3. Phase penitik beratan segi fungsional
Ditemukannya sistematika dalam ilmu publisitik. Tokohnya Walter Hageman memberikan definisi “Publisisti adalah ilmu tentang pendapat-pendapat yang mempunyai nilai actual yang dinyatakan, disebarluaskan dan dinyatakan berdasarkan keyakinan”. Disini terjadi proses peng-analisa-an terhadap gejala publisitik, yaitu:

- Bersifat mempunyai kepentingan umum
- Pernyataan untuk diketahui oleh umum
- Bersifat actual
- Didasarkan pada keyakinan (komunikator)

Dengan empat gejala itu maka publisistik mulai menganalisa diri terhadap besarnya pengaruh social yang dihasilkan. Pengaruh social tersebut terjadi karena adanya komunikasi social. Perkataan social tersebut berasal dari kata “sozius” maka Prakke, melihat bahwa tugas publisistik adalah bahwa media dalam masyarakat industri menjadi “kawan social” dari anggota masyrakat yang mulai hidup terpencil dan secara psikologis mengalami isolasi kehidupan. Tugas media masa mengganti fungsi komunikasi social yang dikenal sebelumnya sebagai masyarakat tradisional-agraria (praindustri).

4. Penitikberatan ilmunya sendiri
Dengan kemajuan ilmu social dan pendekatan masing-masing disiplin ilmu satu sama lain, penelitian social menjadi sangat interdisipliner. Bagi komunikasi sendiri terjadi perluasan pemahaman dari publisistik menjadi ilmu komunikasi. Komunikasi disepakati lebih luas kajiannya dari publisistik, publisistik hanya merupakan bentuk khusus dari komunikasi. Dewasa ini orang tidak hanyan bicara communication science melainkan tentang communication sciences yang lebih menginklusifkan pubilisistik. Karena publisistik tidak lebih hanya ilmu tentang pernyataan-pernyataan yang disebar melalui media masa, sementara ilmu komunikasi tidak hanya menyangkut media, melainkan seluruh asperk kehidupan yang berkaitan dengan komunikasi!

-------------------------------------------------------------------------------------



0 comments :

Post a Comment

komentar dari anda semua adalah komentar yang memiliki relevansi dengan posting artikel diatas dan saya sangat menghargai kunjungan serta komentar-komentar cerdas dari anda semua! Thanks and Happy Blogging

Dasril Iteza on G+

Hubungi Saya

Name

Email *

Message *

Page RankTop  blogs Personal Top Blogs Personal-Journals blog
eXTReMe Tracker
Blogarama - Blogging Blogs