Padang Buang Anak

Dasril Iteza - Belasan abad silam, konon Pulau Belitung pernah dihantam oleh musim kemarau panjang. Menurut informasi yang ada, kemarau panjang ini berlangsung sekitar abad 13 masehi. Meski demikian, kebenaran akan kemarau panjang yang pernah terjadi pada abad tersebut tepatnya tahun berapa, perlu untuk dikaji dan diteliti lebih dalam guna akurasi yang pas untuk sebuah kejadian.

By the way, hubungan kemarau panjang tersebut adalah dengan sebuah cerita yang sangat terkenal sekali di Belitung dan merujuk pada asal muasal sebuah nama tempat yang berlokasi di Belitung yaitu yang sekarang ini dikenal dengan nama Padang Buang Anak atau ada juga yang menyebutnya Padang Muang Anak.


Kawasan ini terletak di kaki Gunung Tajam, masuk dalam wilayah Desa Kacang Butor, Kecamatan Badau – Kabupaten Belitung. Perjalanan menuju Kelapakampit, Damar dan Manggar akan melewati kawasan Padang Buang Anak ini.

Alkisah, suatu hari dimusim kemarau tersebut, seorang perempuan bernama Dambe' berjalan dengan menggendong bayinya. Perjalanan ini dia lakukan untuk mencari air, hingga akhirnya sampailah ia di kaki Gunung Tajam. Namun sumber air tidak kunjung dia dapati. Tenggorokannya semakin haus, demikian pula dengan bayinya yang menangis oleh rasa haus dan mungkin juga karena hawa panas musim kemarau tersebut.

Setelah menempuh perjalanan cukup lama, Dambe’ merasa lelah dan duduk beristirahat pada sebuah batu. Pandangannya diarahkan disekeliling tempat dia beristirahat untuk melihat-lihat apakah ada sumber air didekat tempat dia beristirahat tersebut. Tidak lama kemudian dia melihat kura-kura berjalan dari balik batu tempat dia duduk. Mata Mak Dambe’ terus mengawasi kura-kura yang berjalan semakin menjauhinya, kemungkinan kura-kura ini akan berjalan menuju suatu sumber air.


Akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti kura-kura tersebut. Namun bayinya tidak diikutsertakannya. Dia membuat lingkaran dari batu-batu untuk kemudian bayinya diletakkan dalam lingkaran batu-batu tersebut. Setelah itu dia mulai bangkit dan berjalan mengikuti kura-kura tersebut. Hingga pada akhirnya kura-kura tersebut membawanya kelembah yang penuh dengan sumber air. Dambe’ sangat senang sekali, diminumnya air tersebut untuk menghapus rasa haus yang tadi dirasakannya. Setelah dirasakan cukup, dia memutuskan untuk kembali menemui bayinya yang tadi ditinggalkannya.

Ketika ia kembali, dia tidak menemukan apa-apa lagi. Hanya batu-batu berbentuk lingkaran yang tadi disusunnya, bercak darah yang cukup banyak serta jejak kaki hewan. Karena menghawatirkan keselamatan bayinya, dia mengikuti jejak kaki hewan tersebut. Namun dia tidak bisa menemukan bayinya karena jejak kaki hewan tersebut berakhir di pinggir hutan. Alangkah sedihnya Dambe’ sehingga tidak kuasa membendung air matanya. Dengan perasaan sedih dan air mata terus mengalir, dia memutuskan untuk pulang kerumahnya.

Sesampainya dirumah, dia menceritakan kisahnya pada tetangganya. Tentu saja para tetangga jadi terkejut mendengar penuturan Dambe’ tersebut. Singkat cerita, setelah kejadian tersebut, entah siapa yang memulainya, masyarakat menyebut tempat itu dengan nama Padang Buang Anak.

-------------------------------------------------------------------------------------



0 comments :

Post a Comment

komentar dari anda semua adalah komentar yang memiliki relevansi dengan posting artikel diatas dan saya sangat menghargai kunjungan serta komentar-komentar cerdas dari anda semua! Thanks and Happy Blogging

Dasril Iteza on G+

Hubungi Saya

Name

Email *

Message *

Page RankTop  blogs Personal Top Blogs Personal-Journals blog
eXTReMe Tracker
Blogarama - Blogging Blogs