Jofuku : Ekspedisi Yang Tidak Pernah Kembali

Cerita tentang legenda Jofuku memang telah menyebar keseluruh Jepang dan mungkin dunia saat ini. Cerita yang didasarkan pada hasrat sang kaisar penguasa Cina saat itu yang ingin sekali memakan obat hidup abadi, disisi lainya telah menjadikan akulturasi budaya antara Cina dan Jepang saat itu. Jika anda semua pernah menonton Anime Inuyasha yaitu Inuyasha The 4th Movies : Guren no Houraijama, maka ilham pembuatan Movie ke-4 tersebut salah satu dasarnya adalah Jofuku yang legendaries ini. Cerita yang sangat menarik untuk saya, sehingga saya memutuskan untuk mempostingnya. Sebuah fakta yang legendaries dan melegenda, baik di masyarakat Cina maupun Jepang.

Sosok Jofuku yang Legendaris

Saya memberanikan diri untuk bertanya kepada anda, yaitu seberapa tahu anda semua tentang sosok ini, mari kita coba bandingkan dengan postingan yang saya buat ini agar kita saling melengkapi dan tidak terjadi kesimpangsiuran informasi dan oleh sebab itulah saya cantumkan link-link yang mendasari postingan ini agar bisa di cek dan ricek oleh anda semua. Dengan demikian jika ada semacam kejanggalan dalam postingan saya ini berdasarkan informasi yang anda semua punyai dan jika informasi yang anda punyai itu adalah benar, maka saya dengan amat senang hati akan merevisi postingan ini. Jadi, baiklah kita mulai saja...

Saat Masih di Cina

Penguasa Dinasti Qin, Shi Huang Ti ( 259 – 210/209 SM ) yang takut pada kematian dan mencari cara untuk hidup selamanya. Sering dia berhayal bahwa dinasti yang didirikannya paling tidak bisa bertahan hingga 10.000 generasi, namun faktanya dinastinya runtuh 4 tahun setelah kematiannnya. Keinginannya timbul saat kaisar berjumpa dengan penjual obat misterius. Dia dan penjual obat itu pun terlibat percakapan berbau mistik serta obat kekekalan hidup. Penjual obat hilang secara misterius setelah dia meninggalkan sepucuk surat yang berisi pertunjuk agar kaisar mencarinya di Pulau Kekekalan yang mengarah pada jurusan timur Laut Kuning (banyak dugaan adalah Jepang). Setelah mendapat petunjuk tersebut, Xu Fu atau di Jepang terkenal dengan Jofuku, diberi titah oleh kaisar dengan tugas mencari rahasia keabadian di Pulau Kekekalan , yaitu obat untuk hidup abadi.

Sosok Penguasa Dinasti Qin, Shi Huang Ti

Tahun 210 SM, ketika sang kaisar bertanya padanya dan memerintahkan Xu Fu untuk menemukan obat kehidupan abadi, Xu Fu menyatakan adanya makhluk laut raksasa menghalangi jalan, dan meminta pemanah untuk membunuh makhluk itu. Kaisar pun setuju, dan dikirim pemanah untuk membunuh ikan raksasa, ikan raksasa itupun akhirnya mati. Xu Fu kemudian berlayar lagi karena sang kaisar telah berhasil membunuh mahluk laut raksasa, tetapi ia tidak pernah kembali dari perjalanan ini. Titah sang kaisar ini merupakan perintah yang tidak bisa dibantah, karena andaikan Xu Fu pulang keistana dengan tangan hampa, sang kaisar akan membunuhnya. Dalam Catatan Sejarah mengatakan ia datang ke suatu tempat dengan "dataran datar dan rawa-rawa luas" dan menyatakan diri sebagai raja, dan tidak pernah kembali. Dari sinilah cerita dimulai dan berdampak luar biasa bagi Jepang. Dugaan bahwa Xu Fu mendarat di Jepang memang tidak meleset.

Teks sejarah juga tidak jelas pada lokasi tujuan akhir Xu Fu. Dari Sanguo Zhi, Kemudian Kitab Han, dan Guadi Zhi semuanya menyatakan bahwa ia mendarat di "Danzhou" tetapi keberadaan Danzhou tidak diketahui. Akhirnya, setelah lebih dari 1.100 tahun setelah pelayaran akhir Xu Fu, Biarawan Yichu menulis selama Akhir Dinasti Zhou (951-960 M) dari Lima Dinasti dan Sepuluh Negara menyatakan bahwa Xu Fu mendarat di Jepang, dan juga ia mengatakan Xu Fu menamai Gunung Fuji sebagai Penglai. Teori ini adalah apa yang membentuk "Legenda Xu Fu", yang kemudian menyebar ke Jepang, sebagaimana dibuktikan oleh banyak peringatan untuk dia di sana.

Mereka yang mendukung teori bahwa Xu Fu mendarat di Jepang dikredit dengan menjadi katalis bagi pengembangan masyarakat Jepang kuno. The Jomon Culture yang telah ada di zaman Jepang kuno selama lebih dari 6.000 tahun yang tiba-tiba menghilang sekitar 300 SM. Teknik pertanian dan pengetahuan yang dibawa oleh (rombongan) Xu Fu dikatakan telah meningkatkan kualitas hidup orang Jepang kuno dan dia dikatakan telah memperkenalkan banyak tanaman dan teknik-teknik baru untuk zaman Jepang kuno. Prestasi ini adalah menghubungkan penyembahan Xu Fu sebagai "Dewa Pertanian", "Dewa Obat" dan "Dewa Sutra" oleh Jepang. Banyak kuil dan kenangan dari Xu Fu dapat ditemukan di banyak tempat di Jepang. Di Xuzhou, dekat Yangzhou, ada Lembaga Penelitian Xu Fu melekat pada Xuzhou Teachers College.

Baiklah dugaan Xu Fu mendarat dijepang memang tidak meleset, namun benarkah Jofuku telah mendarat di Jepang seperti yang banyak orang perkirakan, benarkah dia tak pernah kembali lagi ke Cina untuk memberikan obat hidup abadi kepada kaisar Qin sebagaimana yang diperintahkan sang kaisar kepadanya dan apa saja bukti yang mendukung teori tersebut?

Laut Kuno – Gerbang Menuju Dunia : Setelah Mendarat Di Jepang

Gambaran dibawah ini menunjukkan waktu pendaratan mereka. Jofuku berada di tengah-tengah barisan depan dan di belakangnya Anda dapat melihat banyak anak-anak yang datang bersamanya.


Setelah menjalani pelayaran selama bertahun-tahun, akhirnya Jofuku (saya akan memakai istilah Jofuku di Jepang untuk kata Xu Fu, dimana tidak ada perbedaan antara Xu Fu dan Jofuku) beserta rombongannya tiba disuatu pantai di daerah bernama panatai didaerah Kumano. Pantai inilah yang menyambut kedatangan Jofuku dan bersamanya rombongan yang berjumlah 3000 orang yang terdiri dari laki-laki, wanita serta anak-anak, tentunya ini sebuah rekor ekspedisi terbesar yang pernah ada di muka bumi ini. Kedatangannya di klaim telah membawa banyak budaya dan teknologi dari Cina.

Pantai Kumano: Pantai Yang Menyambut Kedatangan Rombongan Jofuku

Siapakah Jofuku ini? Pada masa pemerintahan Kaisar Dinasti Qin, dia adalah seorang dukun Tao yang mengabdi pada sang kaisar saat itu. Ini terjadi lebih dari 2200 tahun yang lalu.

Klenteng Jofuku

Ragam cerita legenda tentang Jofuku bisa ditemukan hampir di seluruh Jepang, namun makamnya hanya ditemukan di Kumano. Makam Jofuku terkenal oleh warga Kota Shingu. Jofuku, bukannya kembali ke Cina, namun menghabiskan sisa hidupnya di Kumano. Makamnya di sebelah timur Kota Shingu. Batu nisannya dibangun atas perintah Tokugawa Yorinobu, penguasa Kishu. Di samping itu, diteduhi oleh naungan sebuah pohon dari jenis tanaman Tendai Uyaku dan pohon kamper yang besar, terdapat sebuah monumen “tujuh murid” yang merupakan tujuh pengikut seniot Jofuku yang terhormat. Belakangan ini situs tersebut telah ditetapkan sebagai “Jofuku Memorial Park” lengkap dengan gerbang bergaya Cina, di mana festival peringatan itu sekarang diperingati setiap bulan Agustus.

Tendai Uyaku

Tanaman ini yang disebut “Tendai Uyaku” adalah kata untuk tanaman yang menjadi keberhasilan Jofuku dalam mengumpulkan aneka tumbuhan setelah mencari di daerah Gunung Horai. Jenis tumbuhan ini merupakan keluarga kapur barus dan secara alami tumbuh di pegunungan Kumano. Tidak menjamin kehidupan menjadi kekal abadi, tetapi akar digunakan sebagai obat yang manjur untuk penyakit ginjal dan rematik. Tanaman ini sekarang dibuat menjadi “Teh Jofuku” dan “Anggur Jofuku” dan sejatinya juga bisa berguna baik untuk kesehatan.

Jofuku no Miya

Jofuku no Miya adalah kuil yang dinamai setelah Jofuku sang penjelajah Cina datang untuk mencari obat mujarab untuk hidup abadi atas perintah Kaisar. Menurut legenda Jofuku tidak kembali ke Cina tetapi memilih untuk tetap tinggal di Kumano. Hal ini diyakini bahwa Jofuku yang membawa kebudayaan Cina dan teknologi untuk daerah. Oleh karena itu metode pertanian Cina, perikanan, penangkapan ikan paus, pembuatan kertas, dan seterusnya menjadi meluas di sini dan tempat-tempat lain Jepang. Pada waktu itu Kumano adalah lokasi utama untuk membawa budaya dari dunia luar ke bagian dalam mencapai Jepang, menjadi seperti rute pelayaran laut yang penting. Rute laut ini merupakan saluran utama komunikasi dan perdagangan dengan seluruh dunia dan itu penting dalam sejarah perkembangan Jepang dan membuka diri terhadap dunia. Kedatangan rombongan Jofoku benar-benar membawa dampak budaya yang luar biasa bagi Jepang, saat itu, dimana kedatangan Jofuku dan rombongannya, Jepang masih berada di posisi Zaman Batu (Stone Age).

Bukti terakhir bahwa Jofuku benar-benar mendarat di Jepang adalah dengan adanya batu nisan Jofuku, seperti yang anda bisa lihat dibawah ini.


Akhir tulisan saya mencoba untuk menyimpulkan : Apa yang sebenarnya dipikirkan Xu Fu atau Jofuku yang diberitakan tidak pernah kembali lagi ke Cina, menurut hemat saya ada dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama adalah rasa takut dibunuh oleh kaisar karena tidak berhasil membawa obat kekekalan hidup; sedangkan kemungkinan yang kedua adalah pastinya saat ekspedisi dia sudah berusia dewasa. Seperti diketahui perjalanan menempuh jepang bisa memakan waktu bertahun-tahun, belum lagi waktu yang diluangkan untuk mencari obat kekekalan hidup terus kembali lagi ke Cina juga tentunya akan memakan waktu bertahun-tahun. Jadi bisa anda bayangkan sendiri jika Jofuku mau bolak-balik Cina – Jepang. Dimana di Jepang sendiri oleh masyarakat lokal saat itu dia dianggapa sebagai "Dewa" seperti yang ditulis dalam paragraf keenam diatas, diperlakukan sebagai orang terhormat yang membawa banyak perubahan dibandingkan dengan kehidupannya saat masih di Cina mungkin telah merubah keinginan Jofuku untuk pulang ke Cina, terlepas dari hukuman mati yang akan diterimanya apabila gagal membawa obat keabadian.

Namun ada hal yang membuat saya heran, dan juga bertanya-tanya seperti yang dikatakan diatas bahwa kedatangan Jofuku dan rombongan telah membawa budaya dan teknologi Cina, namun kenapa kaisar saat itu memerintahkan Jofuku untuk mencarinya keluar negeri Cina? Bukankah sudah bukan rahasia dunia lagi jika Cina terkenal dengan obat-obatannya? Terkenal dengan teknik pengobatannya semisal akupuntur dan lain sebagainya. Dan bahkan konon katanya aksara Jepang yang sekarang ini dipakai adalah bersumber dari Cina? Namun kenapa? Apakah ini membuktikan bahwa tingkat pengobatan dan komposisi obat Negeri Jepang sudah jauh lebih maju dari Cina pada saat itu?

Yang bisa diargumenkan adalah bahwa sang kaisar benar-benar telah buta mata hatinya dan "menyadari" bahwa sesungguhnya obat kekekalan itu tidak berada dinegerinya, akan tetapi berada disebuah pulau di jurusan timur Laut Kuning seperti yang diinformasikan dalam surat yang deberikan oleh penjual obat misterius.

-------------------------------------------------------------------------------------



0 comments :

Post a Comment

komentar dari anda semua adalah komentar yang memiliki relevansi dengan posting artikel diatas dan saya sangat menghargai kunjungan serta komentar-komentar cerdas dari anda semua! Thanks and Happy Blogging

Dasril Iteza on G+

Hubungi Saya

Name

Email *

Message *

Page RankTop  blogs Personal Top Blogs Personal-Journals blog
eXTReMe Tracker
Blogarama - Blogging Blogs