Jika Bersimpati Pada Tikus Percobaan, Maka Ilmu Pengetahuan Tidak Akan Maju-maju

Berbicara tentang ilmu pengetahuan (dan juga teknologi) yang sudah sedemikan maju dan canggihnya sekarang ini membuat kita semua semakin hari seolah-olah makin mengerti apa saja yang terkandung dalam dunia ini. Dalam bidang Sejarah, kita jadi mengetahui apa dan siapa itu Patih Gadjah Mada, dalam bidang Kearsipan, kita jadi mengetahui tata cara atau pengetahuan dalam mengelola kearsipan yang baik dan benar. Dalam bidang kedokteran kita jadi tahu tentang anatomi tubuh.

Coba kita tengok kebelakang, bidang-bidang diatas memang sudah ada, namun kita tidak tahu harus mengatakan apa. Ini karena kita tidak memiliki ilmu pengetahuan yang memadai, minimal ilmu pengetahuan yang cukup dan sejalan dengan bidang yang kita geluti.

Kita mencoba bahasannya dipersempit. Dan Bro Kodzan, lalu kaitannya dengan judul diatas apa dan bagaimana? Baiklah rekan-rekan, mohon bersabar sedikit. Jika anda semua mengikuti apa yang saya tulis ini hingga akhir, anda semua akan melihat kaitannya!

Semua setuju. Kalangan ilmuan saya yakin juga setuju. Bahwa memang dalam hal “penciptaan” dan pengembangan ilmu pengetahuan yang disusun oleh manusia tidak lepas dari apa yang dinamakan “tikus percobaan” atau ada juga yang menyebutnya “kelinci percobaan”, bukan? Setiap suatu bidang atau hal yang dikaji mungkin semuanya memiliki apa yang dinamakan “tikus atau kelinci percobaan”. Karena jika tidak ada hal itu, rasanya mustahil untuk menyibak misteri yang selama ini menghuni benak manusia yang ingin dan selalu ingin tahu.

Untuk mempersempit bahasan tulisan ini, saya contohkan saja dalam Kajian Bidang Kedokteran. Kenapa kedokteran? Karena dalam bidang kedokteranlah rasa simpati manusia diuji.

Jantung, otak, hati, ginjal, lambung, paru-paru, dan barang lain yang letaknya dalam tubuh manusia awalnya memang sudah ada. Namun manusia tidak tahu harus menamakaannya apa. Lebih dari itu, manusia juga tidak tahu bagaimana bentuk benda-benda dalam tubuh tersebut. Untuk itulah diperlukan pembedahan pada manusia (yang sudah mati) untuk bisa diteliti dan dicari segala sesuatu yang berhubungan dengan rasa penasaran manusia tersebut. Dari hasil-hasil pembedahan tersebut itulah akahirnya diketahui apa itu yang sekarang ini kita namai Jantung, otak, hati, ginjal, lambung, paru-paru, dan barang lain yang letaknya dalam tubuh manusia. Untuk itu juga mutlak diperlukan “kelinci atau tikus percobaan” yang juga berasal dari manusia, sehingga dengan demikian terciptalah suatu unsur ilmu pengetahuan tentang organ dalam manusia.

Pertanyaannya sekarang, bagaima jika para manusia itu bersimpati pada “tikus dan kelinci percobaan” yang dijadikan objek penelitian ilmu pengetahuan? Manusia yang sudah mati biasanya langsung akan dikuburkan, bukan? Jika awal mula manusia pertama kali membedah manusia (mayat) lainnya, saya berani mengatakan tidak ada yang namanya Jantung, otak, hati, ginjal, lambung, paru-paru serta tidak akan pernah diketahui tentang organ dalam manusia itu bagaima bentuk atau strukturnya! Dalam hal ini manusia memerlukan “tikus atau kelinci percobaan” untuk memuaskah hasrat besar keingintahuan para manusia itu sendiri. Diperlukan manusia yang akan dijadikan “tikus atau kelinci percobaan”, bukan? Kembali saya ulangi pertanyaan, apa yang akan terjadi jika para manusia itu bersimpati pada jenazah/ mayat? Tentu tidak akan ada percobaan-percobaan, akhirnya ilmu pengetahuan – khusunya dalam bidang kedokteran organ dalam – tidak akan (ada) atau tidak akan maju-maju bukan? Berbekal rasa ingin memajukan ilmu pengetahuan, beberapa manusia mungkin mengesampingkan rasa simpatinya terhadap manusia lainnya meskipun manusia itu sudah jadi mayat (dan katakanlah) yang tidak punya identitas pula.

Dengan Dibedahnya Batok Kepala Manusia, Maka Akan Terlihatlah Otak

Untuk mengungkap organ dalam manusia itu maka dilakukanlah operasi yang antara lain dengan membelah dada manusia untuk melihat jantung, ginjal, paru-paru, dll. Untuk mengetahui otak, maka dibelahlah batok (tengkorak) kepala manusia. Apa pun itu (mungkin) rasa simpati dikesampingkan dalam hal ini.

Hal diatas, merupakan sedikit tentang dunia kedokteran. Bagaimana dengan bidang ilmu pengetahuan (dan teknologi) dalam bidang lain? Bom Atom misalnya. Saat manusia mengetahui reaksi pembelahan berantai dari struktur atom sehingga menghasilkan apa yang dinamakan bom atom. Kasus bom atom di dua Kota di Jepang yaitu Hiroshima dan Nagasaki, contohnya. Bom atom ini memiliki daya hancur yang luar biasa, dan mengakibatkan kematian yang komunal bagi suatu komunitas, kota atau kampung jika dijatuhi bom atom – itu teorinya. Namun itu belum benar-benar bisa dibuktikan jika bom atom itu tidak diledakkan pada kota atau daerah (dengan jumlah orang yang sangat banyak), untuk itu diperlukanlah kota atau daerah sebagai “tikus atau kelinci percobaan” ledakan bom atom tersebut. Dan hasilnya, ratusan ribu nyawa manusia melayang saat kedua kota tersebut dijatuhi bom atom. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah diciptakan, namun manusia masih belum puas untuk melihat hasil dan kelanjutan dari temuan ilmu pengetahuan dan teknologi bom atom ini. Andaikan saja saat itu pihak Amerika (dan Sekutu) bersimpati pada kedua kota tersebut, maka tidak mungkin akan diketahui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bom atom tersebut serta dampaknya, bukan? Terlepas meskipun saat itu sedang berlansung kecamuk Perang Dunia II (Wold War II). Sekali lagi kebenaran dari sebentuk teori memang harus diiuji, dan untuk itu semua mutlak diperlukan “tikus atau kelinci percobaan”. Dan mungkin juga dalam beberapa kasus tertentu, simpati dikesampingkan guna kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bom Atom Di Nagasaki, Jepang - 1945. Sebagai "Tikus atau Kelinci Percobaan" Untuk Bom Yang Dijatuhkan Pada Area berpenghuni.
Kredit Wikipedia

Beberapa diantara kalian mungkin ada yang tidak suka setelah membaca tulisan saya ini, namun setidaknya itu adalah pemikiran saya. Munkin saja pemikiran saya ini tidak 100% benar, setidaknya pasti ada juga beberapa diantara kalian yang setuju : “Jika Bersimpati Pada Tikus Percobaan, Maka Ilmu Pengetahuan Tidak Akan Maju-maju”.

Itu adalah sekelumit dari sekian banyak hal yang bisa dijadikan contoh. Bidang-bidang lain saya pikir mungkin ada beberapa kesamaan, yaitu memerlukan “tikus atau kelinci percobaan” untuk mengembangkan serta memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi, entah nanti akan berkaitan dengan dengan nyawa manusia atau tidak, yang jelas setiap manusia di muka bumi ini memiliki rasa haus akan ilmu pengetahuan dan teknologi dan berusaha untuk menciptakan, mengembangkan serta memajukannya dan “tikus atau kelinci percobaan” akan selalu dipilih untuk serangkaian pengujian dan pembuktian! Jadi?

Terkait dengan tulisan saya diatas, mungkin ada beberapa komentar dari anda. Kalau begitu silahkan anda semua menuliskannya pada kolom komentar dibawah. Thanks!

By Kodzan | Minggu at 10.26 PM
Selesai Saat Gerimis Dilangit Kota Manggar, Pulau Belitung

-------------------------------------------------------------------------------------



1 comments :

Anonymous Monday, May 15, 2017 at 3:32:00 AM GMT+7  

Mengerti dan berdoa untuk kelinci percobaan bisa berjalan dengan lancar dan mengharapkanyang terbaik untuk semuanya

Post a Comment

komentar dari anda semua adalah komentar yang memiliki relevansi dengan posting artikel diatas dan saya sangat menghargai kunjungan serta komentar-komentar cerdas dari anda semua! Thanks and Happy Blogging

Dasril Iteza on G+

Hubungi Saya

Name

Email *

Message *

Page RankTop  blogs Personal Top Blogs Personal-Journals blog
eXTReMe Tracker
Blogarama - Blogging Blogs