Sekilas Pengetahuan Tentang Humor

Semua orang saya pikir tentu pernah tertawa, tidak hanya tertawa yang biasa saja, tetapi tertawa lepas dengan terbahak-bahak. Namun sekiranya apa yang menyebabkan mereka semua itu tertawa terbahak-bahak? “Tidak akan ada asap kalau tidak ada api!” Begitu juga dengan tertawa lepas terbahak-bahak, pasti ada sebab-musababnya, iya kan? Anda sekalipun pernah tertawa lepas terbahak-bahak bukan? Mungkin salah satu penyebabnya adalah sebuah lelucon yang dilakukan oleh kerabat anda atau orang lain yang melakukan sebentuk tindakan yang mencerminkan “ketololan” baik disengaja atau tidak!

Anda semua juga pernah mendengar istilah asing “Sense of Humor”, bukan? Terkadang istilah ini dimiliki seseorang yang memang memiliki bakat humoris, yang sering anda saksikan pada layar televisi. Mereka yang memiliki Sense of Humor memang mampu untuk membuat kita tergelitik dan tidak bisa menahan tawa akibat tingkah jenaka, “ketololan” mereka, sehingga terkadang masyarakat kita memvonis mereka ini adalah orang yang humoris. Mereka ini adalah orang yang mampu membuat kita tertawa terbahak-bahak.

Banyak sekali studi tentang humor ini (Lihat: Internet Encyclopedia of Philosophy dan Wikipedia), humor merupakan understudied dalam disiplin filsafat. Pada perkembangannya studinya, humor juga tidak lepas dari berbagai teori-teori yang berusaha untuk menjelaskan mengapa humor terjadi atau apa sebenarnya humor itu? Ada banyak sekali tentang teori humor, namun dalam garis besarnya, berbagai teori tentang humor dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) ragam, yaitu:

Pertama. Teori Keunggulan (Superiority Theory), teori ini menekankan inti bahwa humor adalah rasa lebih baik, rasa lebih tinggi atau lebih sempurna pada diri seseorang dalam menghadapi suatu keadaan yang mengandung kekurangan/ kelemahan. Dalam teori ini, seseorang akan tertawa jika mendadak jika memperoleh perasaan unggul karena dihadapkan pada pihak lain yang melakukan kekeliruan atau mengalami hal yang tidak menguntungkan. Teori ini dapat dipakai untuk menerangkan mengapa para penonton tertawa terbahak-bahak jika melihat badut sirkus yang membentur tiang, jatuh tersandung, melakukan aneka kekeliruan atau yang prilakunya menunjukkan ketololan!

Kedua. Teori Ketaksesuaian/ Ketidaksesuaian (incongruity theory), Menurut teori ini humor timbul karena perubahan yang sekonyong-konyong atau tiba-tiba dari situasi yang sangat diharapkan menjadi suatu hal yang sama sekali tidak diduga pada tempatnya. Tertawa terjadi karena harapan yang dikacaukan (Frustrated Expectation) sehingga seseorang dari suatu sikap mental dilontarkan kedalam suatu sikap mental yang sama sekali berlainan.

Ketiga. Teori Pembebasan (Relief Theory). Teori ini menyebutkan bahwa inti dari humor adalah pembebasan atau pelepasan dari kekurangan yang terdapat pada diri seseorang. Karena berbagai pembatasan dan larangan yang ditentukan oleh masyarakat. Dorongan-dorongan batin alamiah dalam diri seseorang mendapat kekurangan atau tekanan. Bilamana kekurangan/ tekanan itu dapat dilepaskan oleh misalnya dengan (maaf) lelucon sex, sindiran jenaka, atau ucapan nonsense (omong kosong), maka meledaklah perasaan seseorang dalam bentuk tertawa.

Ahli psikoanalisis, Sigmud Freud (1856-1939), mengatakan bahwa lelucon memiliki kemiripan dasar dengan impian, dimana keduanya pada dasarnya merupakan sarana untuk mengatasi pengekangan (censor) yang datang dari luar atau telah tumbuh dalam diri seseorang. Dalam impian, ide-ide terlarang dapat diserongkan atau diselubungi, sedangakan dalam kelakar, orang bisa menyelipkan kecaman, cacian, atau pelepasan diri apa saja yang tidak begitu kerasa dan langsung.

Humor Dalam Teori Evolusi

Alastair Clarke menjelaskan: "Teori evolusi adalah penjelasan dan kognitif tentang bagaimana dan mengapa setiap individu menemukan sesuatu yang lucu. Efektif, itu menjelaskan bahwa humor terjadi ketika otak mengenali suatu pola bahwa kejutan itu, dan bahwa pengakuan seperti ini dihargai dengan pengalaman dari respon lucu, unsur yang disiarkan sebagai tawa. " Teori ini lebih lanjut mengidentifikasi pentingnya pengenalan pola dalam evolusi manusia: "Kemampuan untuk mengenali pola langsung dan tidak sadar telah terbukti sebagai senjata mendasar di gudang senjata kognitif manusia itu. Hadiah lucu telah mendorong pengembangan tersebut, mengarah pada persepsi unik dan kemampuan intelektual spesies kita.

-------------------------------------------------------------------------------------



0 comments :

Post a Comment

komentar dari anda semua adalah komentar yang memiliki relevansi dengan posting artikel diatas dan saya sangat menghargai kunjungan serta komentar-komentar cerdas dari anda semua! Thanks and Happy Blogging

Dasril Iteza on G+

Hubungi Saya

Name

Email *

Message *

Page RankTop  blogs Personal Top Blogs Personal-Journals blog
eXTReMe Tracker
Blogarama - Blogging Blogs